Makna Sakral Lirik Lagu ‘Jogja Istimewa’ Milik Kill The DJ

CNN Indonesia
Selasa, 15/01/2019 18:16
Bagikan :

Makna Sakral Lirik Lagu 'Jogja Istimewa' Milik Kill The DJ

Kill The DJ memaparkan makna mendalam di lagu ‘Jogja Istimewa’. (Foto: Hanna Azarya Samosir)
Jakarta, CNN Indonesia — Lagu Jogja Istimewa karya rapper Marzuki Mohamad alias Juki alias Kill the DJ tengah dibicarakan. Bukan karena prestasi, tetapi karena lirik lagu itu diubah oleh pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tanpa seizin pemilik lagu.

Tak ayal, Kill the DJ geram bukan main. Kekesalannya terlihat dalam unggahan-unggahan di Twitter dan Instagram. Bahkan ia serius membawa kasus tersebut ke ranah hukum dengan melapor ke Polda DIY.

Belum diketahui siapa yang mengubah lirik Jogja Istimewa, dalam video hanya terlihat lagu itu dinyanyikan sekelompok ibu-ibu. Lirik ‘Istimewa negerinya istimewa orangnya‘ diganti menjadi ‘Prabowo-Sandi pilihan kita‘. Lirik ‘Jogja istimewa untuk Indonesia‘ diganti menjadi ‘adil dan makmur tujuan kita‘.

Kill the DJ menuliskan klarifikasi di akun Instagram. Lagu itu ia ciptakan sendiri pada 2009 silam yang kemudian dinyanyikan oleh Jogja Hip Hop Foundation (@javahiphop). Ia juga menegaskan tidak pernah memberi izin kepada siapa pun untuk menggunakan lagu itu sebagai alat kampanye. 

“Bagi saya, @javahiphop, dan sebagian besar warga Yogyakarta, pasti tahu sejarah dan kebanggaan pada lagu tersebut, itu kenapa saya tidak akan pernah mengganti liriknya untuk tujuan lain, baik komersil apalagi kampanye politik,” tulis Kill the DJ.

[Gambas:Instagram]

Dari penjelasan di atas bisa diketahui bahwa lagu itu terbilang sakral bagi masyarakat Yogyakarta. Memang bukan lagu daerah atau lagu nasional, tetapi Jogja Istimewa jadi punya nilai sejarah karena lahir sebagai reaksi kekesalan publik lantaran RUU Keistimewaan Yogyakarta tak kunjung selesai.

Warga Yogyakarta semakin emosi ketika presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan dalam negara Indonesia yang menganut demokrasi tidak boleh ada sistem monarki. Alhasil publik pun sepakat mewacanakan referendum. 

Mengutip blog Kill the DJ, Kill the Blog, seiring waktu berjalan Jogja Istimewa menjelma jadi lagu rakyat. Mulai dari rumah di desa atau tengah kota, juga radio-radio lokal memutar lagu itu sebagai mars penyemangat perjuangan.

“Kami Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanam, Rotra) yang tergabung dalam Jogja Hip Hop Foundation, merasa sangat berbangga dan haru lagu tersebut telah bisa menjadi lagu rakyat Yogyakarta. Namun sesungguhnya sedikit yang tahu, bagaimana lagu tersebut tercipta, terutama dari mana liriknya bersumber,” kata Kill the DJ.

Menengok ke belakang, Kill the DJ terinspirasi menulis lagu itu setelah membaca tiga buku bertajuk Tahta Untuk RakyatKraton Yogyakarta; Sejarah, Nasionalisme, dan Teladan Perjuangan dan Perubahan Sosial di Yogyakarta. Buku Tahta Untuk Rakyat paling berkesan baginya karena mengungkap kepribadian Sultan Hamengkubuwana (HB) IX.

Jogja Istimewa adalah lagu bergenre hip hop dengan sentuhan tradisional. Suara gamelan terdengar cukup dominan dari awal sampai akhir lagu. Terlebih dalam lagu ini terdapat bahasa dan falsafah Jawa. 

Di awal lagu terdapat lirik ‘holopis kuntul baris‘ yang diambil dari falsafah tradisional Jawa. Frasa itu dapat diartikan sebagai ajakan untuk bekerja bersama-sama. Cocok dikumandangkan saat sama-sama melakukan perjuangan. 

Lirik selanjutnya adalah ‘Jogja! Jogja! Tetap istimewa. Istimewa negrinya, istimewa orangnya. Jogja! Jogja! Tetap Istimewa. Jogja istimewa untuk Indonesia‘. Lirik ini diambil dari ucapan presiden pertama Indonesia Soekarno yang mengapresiasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan masyarakat Yogyakarta atas kontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. 

Berikutnya, lirik yang berbunyi ‘Rungokna iki gatra saka Ngayogyakarta. Nagari paling penak rasane koyo swarga. Ora peduli donya dadi neraka. Neng kene tansah edi peni lan merdika‘. Lirik ini ditulis sendiri oleh Kill the DJ yang berarti Yogyakarta adalah negeri paling nyaman seperti surga yang selalu merdeka. 

Dilanjutkan dengan lirik yang diambil dari semangat takhta Sultan HB IX, kemudian ditambah oleh anaknya, HB X. Lirik tersebut berbunyi ‘Tanah lahirkan Tahta, Tahta untuk Rakyat. Di mana Rajanya bercermin di kalbu rakyat. Demikianlah singgasana bermartabat. Berdiri kokoh ‘tuk mengayomi rakyat‘.

Setelah itu lirik berbunyi ‘Memayu hayuning bawana‘ yang merupakan visi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Frasa ini dapat diartikan sebagai membuat bumi menjadi indah. Lirik tersebut disambung dengan lirik yang merujuk pada pernyataan Soekarno di atas. 

Lirik berikutnya berbunyi:

Tambur wis ditabuh suling wis muni
Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Bareng para prajurit lan senopati
Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti

“Saya tulis sendiri, namun terpengaruh oleh teks-teks macapat tradisional Kraton. Artinya seperti ini; ‘Tambur telah ditabuh, seruling sudah berbunyi, bersatu padu menjadi satu, bersama prajurit dan senopati, mulia atau mati rakyat dan raja adalah satu‘,” tulis Kill the DJ.

Disambung lirik demikian:

Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan

“Teks aslinya seperti ini ‘Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa raja brana, sekti tanpa aji‘ ditulis oleh RM Sosrokartono menggambarkan pribadi Sultan HB IX,” lanjut Kill the DJ.

Lirik berikutnya berbunyi ‘Tradisi hidup di tengah modernisasi. Rakyate jajah deso milang kori. Nyebarake seni lan budi pekerti‘. Bagian tersebut ditulis sendiri oleh Kill The DJ dengan mengambil mengambil pepatah Jawa ‘Jajah desa milangkori‘ yang artinya berkelana ke mana-mana.

Selain lirik di atas, masih ada ada lirik lain yang ia tulis sendiri dan ada yang diambil dari puisi WS Rendra serta slogan pendidikan karya Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Akan lebih terasa kesakralan lagu ini bila didengar sembari menyaksikan videonya.

“Dengan lirik semacam ini, saya hanya mencoba mengaktualisasikan sejarah, mengingatkan siapapun yang mendengar, sebagai pembela sekaligus kritik bagi warga Jogja, termasuk mengingatkan semangat dan nilai-nilai yang telah ditanamkan Keraton pada masa perjuangan kemerdekaan,” ucap Kill the DJ.

Pada 2013 Kill the DJ kembali menjelaskan arti lagu itu lewat tulisan di blog yang bertajuk Pisau Bermata Dua: Refleksi Tiga Tahun Lagu Jogja. Ia mengaku pernah menjelaskan maksud pisau bermata dua dari lagu tersebut. 

“Bisa menjadi dukungan atas perjuangan Yogyakarta, tapi sekaligus bisa menjadi pengingat atau kritik bagi seluruh warga, pamong praja, para pemimpin dan penguasa di Yogyakarta, jika dalam mengemban amanatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kearifan dalam lagu tersebut,” ujarnya. 

Secara keseluruhan, bisa dilihat bagaimana sakralnya Jogja Istimewabagi Kill the DJ dan seluruh masyarakat Yogyakarta. Terlebih lagu itu mengandung kutipan-kutipan para pendiri bangsa Indonesia dan falsafah Jawa. Mengganti lirik tanpa seizin pemilik hak cipta atau pencipta sudah pasti sebuah kesalahan. 

Terlepas dari makna lagu Jogja Istimewa, harus diakui, banyak masyarakat Indonesia yang belum melek hak cipta dan mungkin belum tahu bahwa hak cipta diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. 

Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia agar tidak sembarang mengubah lirik atau menggunakan lagu milik orang lain tanpa izin. 

(adp/rea)
Bagikan :